Ittiba As-Sunnah, Kewajiban Mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam

بسم الله الرحمن الرحيم

Oleh: Ustadz Abdullah Taslim, Lc.

Prolog

Semua orang yang beriman kepada Allah Azza wa Jalla dan hari kemudian wajib menyadari bahwa landasan utama agama islam yang agung ini adalah dua kalimat syahadat:لا إله إلا الله و محمد رسول الله yang ini berarti bahwa seseorang tidak akan bisa berislam dengan benar, bahkan tidak akan bisa mencapai kedudukan taqwa yang sebenarnya disisi Allah Azza wa Jalla, kecuali setelah dia berusaha memahami dan mengamalkan kandungan dua kalimat syahadat ini dengan baik dan benar.

Para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah menjelaskan bahwa makna (لا إله إلا الله) adalah tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah Azza wa Jalla, artinya tidak ada yang berhak untuk kita serahkan padanya segala bentuk ibadah, yang lahir maupun yang batin, kecuali Allah Azza wa Jalla semata-mata. Dan syahadat ini mengandung dua konsekwensi:

  1. Menetapkan bahwa hanya Allah Azza wa Jalla yang berhak disembah/diibadahi
  2. Berlepas diri dari segala sesuatu yang disembah selain Allah Azza wa Jalla.

Adapun syahadat محمد رسول الله)), maka maknanya tercakup dalam empat perkara:

  1. Mentaati segala sesuatu yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
  2. Membenarkan semua berita yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
  3. Menjauhi semua yang dilarang dan dicela oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
  4. Hanya mengikuti sunnah dan petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.

Dan untuk tujuan merealisasikan kandungan dua kalimat syahadat inilah Allah Azza wa Jalla mengutus para Rasul shallallahu alaihi wasallam, Allah Azza wa Jalla Berfirman:

ولقد بعثنا في كل أمة رسولاً أنِ اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah segala sesuatu yang disembah selain-Nya” (QS An Nahl: 36).

Dan Allah Azza wa Jalla menceritakan tentang seruan yang disampaikan Nabi Nuh shallallahu alaihi wasallam kepada kaumnya, dalam firman-Nya:

قال يا قومِ إني لكم نذير مبين، أن اعبدوا الله واتقوه وأطيعونِ

Nuh berkata:”Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepadamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah (saja), bertaqwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku”, (QS. Nuh: 2-3).

Dan tentang seruan Nabi ‘Isa kepada kaumnya:

وجئتكم بآية من ربكم فاتقوا الله وأطيعونِ، إنّ الله ربي وربكم فاعبدوه، هذا صراط مستقيم

Dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mu’jizat) dari Rabbmu. Karena itu bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku, Sesungguhnya Allah, Rabbku dan Rabbmu, karena itu sembahlah Dia (saja). Inilah jalan yang lurus”. (QS. Ali ‘Imran: 50-51)

Kesimpulannya, inti ajaran dan seruan dakwah para Nabi dan Rasul shallallahu alaihi wasallam adalah:

  • Mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla semata-semata
  • Mengajarkan kepada mereka bagaimana cara beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yang benar dan diridhai oleh Allah Azza wa Jalla, melalui ucapan dan perbuatan mereka shallallahu alaihi wasallam.


Dalil-dalil wajibnya mengikuti petunjuk Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam beribadah

Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla sama sekali tidak akan menerima amal perbuatan seorang hamba, bagaimanapun semangatnya dia dalam mengerjakannya, dan meskipun dia mengaku mencintai Allah Azza wa Jalla dan ikhlas dalam mengerjakannya, kecuali jika amal perbuatan tersebut sesuai dengan petunjuk dan sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, 

Allah Azza wa Jalla Berfirman:

قل إن كنتم تحبّون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم، والله غفور رحيم

Katakanlah (wahai Rasulullah): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku (ikutilah sunnah dan petunjukku), niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali ‘Imran:31).

Imam Ibnu Katsir, sewaktu menafsirkan ayat ini berkata: 

“Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemberi hukum) bagi semua orang yang mengaku mencintai Allah Azza wa Jalla, padahal dia tidak mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka orang tersebut (dianggap) berdusta dalam pengakuannya (mencintai Allah Azza wa Jalla), sampai dia mau mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaan Beliau shallallahu alaihi wasallam”.

 Oleh karena itulah sebagian dari para ulama ada yang menamakan ayat ini sebagai “Ayatul Imtihan” (Ayat untuk menguji benar/tidaknya pengakuan cinta seseorang kepada Allah Azza wa Jalla).

Dan kalau kita melihat kembali apa sebenarnya definisi Ibadah/Amal saleh itu, maka akan semakin jelaslah masalah ini. Definisi Ibadah yang paling lengkap dan paling baik adalah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya “Al ‘Ubudiyyah”: Ibadah itu adalah suatu nama (istilah) yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah Azza wa Jalla, baik itu berupa perkataan atau perbuatan, yang lahir maupun batin. Maka dari definisi ini terlihat jelas bahwa salah satu kriteria ibadah/amal saleh adalah dicintai dan diridhai oleh Allah Azza wa Jalla, artinya yang menjadi barometer dalam menilai apakah suatu ucapan/perbuatan bernilai ibadah/amal saleh disisi Allah Azza wa Jalla, adalah kecintaan dan keridhaan Allah Azza wa Jalla, bukan berdasarkan keinginan, akal, perasaan atau kesenangan manusia. Dan semua ucapan dan perbuatan yang dicintai oleh Allah Azza wa Jalla telah disampaikan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam ucapan dan perbuatan (sunnah) Beliau shallallahu alaihi wasallam, sehingga setelah Beliau shallallahu alaihi wasallam wafat, maka tidak ada satu ucapan/perbuatan pun yang dibutuhkan oleh setiap muslim untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, kecuali semua itu telah disampaikan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan lengkap dan jelas. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath Thabarani (Al Mu’jam al kabir 2/155) dan disahihkan oleh Syaikh Al Albani, dari seorang sahabat yang mulia Abu Dzar Al Ghiffari radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

ما بقي شيء يقرب من الجنة ويباعد من النار إلا وقد بين لكم

Tidak ada (lagi) yang tertinggal dari (ucapan/perbuatan) yang bisa mendekatkan (kamu) ke surga dan menjauhkan (kamu) dari neraka, kecuali semua itu telah dijelaskan kepadamu”

Dan Beliau shallallahu alaihi wasallam juga bersabda: 

Tidak ada seorang Nabi pun (yang diutus oleh Allah Azza wa Jalla) sebelumku, kecuali wajib baginya untuk menyampaikan kepada umatnya (semua) kebaikan yang diketahuinya, dan memperingatkan mereka dari (semua) keburukan yang diketahuinya”, (HSR Muslim).

Dan Allah Azza wa Jalla sendiri telah mengumumkan kepada semua manusia tentang kesempurnaan ajaran agama islam yang disampaikan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ini dalam firman-Nya:

اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام ديناً

Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam ini menjadi agamamu”, (QS Al Maaidah:3).


Konsekwensi buruk perbuatan bid’ah

Maka setelah turunnya ayat di atas, jika ada seorang yang ingin mencari atau melakukan suatu ucapan/perbuatan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, padahal ucapan/perbuatan tersebut tidak pernah disampaikan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka orang ini ada dua kemungkinan padanya, yang tidak bisa lepas darinya:

  • Kemungkinan pertama, dia menganggap Allah Azza wa Jalla belum menyempurnakan agama islam ini, yang berarti firman Allah Azza wa Jalla dalam surat Al Maaidah:3 tersebut, tidak ada artinya, atau dengan kata lain, firman Allah Azza wa Jalla tersebut (menurut dia) isinya cuma sekedar basa-basi, karena tidak sesuai kenyataan?!
  • Kalau dia menyanggah kemungkinan pertama tadi, maka kemungkinan kedua, dia menuduh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam belum menyampaikan syariat islam ini dengan sempurna, artinya (menurut dia) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyembunyikan sebagian dari petunjuk Allah Azza wa Jalla yang seharusnya disampaikan kepada manusia, atau dengan kata lain, dia menuduh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengkhianati amanat Allah Azza wa Jalla untuk menyampaikan semua petunjuk Allah Azza wa Jalla kepada manusia?!

Maka tentu saja tuduhan-tudahan yang terdapat dalam dua kemungkinan di atas adalah tuduhan-tuduhan yang sangat keji, bahkan bisa menyebabkan kekafiran jika seseorang benar-benar meyakininya. Dan semua ini menggambarkan kepada kita akan buruknya melakukan perbuatan yang tersebut di atas (perbuatan Bid’ah), karena konsekwensinya adalah tuduhan-tuduhan keji yang langsung ditujukan kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, seperti yang tersebut dalam dua kemungkinan di atas.


Epilog

Sebagai penutup dari tulisan singkat ini, kami ingin menyampaikan beberapa syubhat (pengkaburan) yang sering dilontarkan ketika kita membicarakan masalah ini, sekaligus jawabannya, insya Allah Azza wa Jalla. Di antaranya adalah sebagai berikut:

Ucapan orang yang mengatakan: “yang pentingkan niatnya baik, meskipun jalannya berbeda-beda selamanya tujuannya satu, pasti akan diterima oleh Allah Azza wa Jalla?! 

Bahkan ada di antara mereka yang berargumentasi dengan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئٍ ما نوى

Sesungguhnya semua amal perbuatan itu tergantung dari niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan (balasan) sesuai dengan apa yang diniatkannya” (HSR Al Bukhari 1/3 dan Muslim 3/1515).

Jawabannya, Hadits ini memang hadits yang shahih, akan tetapi ada ayat Al Qur’an dan hadits lain yang menerangkan makna yang benar dari hadits ini, diantaranya sabda Rasulullahshallallahu alaihi wasallam:

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو ردٌّ

Barang siapa yang melakukan suatu amalan (dalam agama ini) yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HSR Al Bukhari 2/753 dan Muslim 3/1343).

Maka metode yang benar dalam memahami agama ini adalah memahaminya dari semua ayat Al Qur’an dan hadits yang shahih secara keseluruhan, bukan dengan mengambil satu ayat atau hadits kemudian meninggalkan ayat atau hadits yang lainnya?! Kedua hadits di atas menjelaskan tentang dua syarat diterimanya amal ibadah di sisi Allah Azza wa Jalla:

  1. Syarat yang pertama, yaitu ikhlas semata-mata karena Allah Azza wa Jalla dalam melakukan amal ibadah, dan ini adalah inti makna syahadat (لا إله إلا الله), syarat ini terkandung dalam hadits yang pertama, oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa hadits yang pertama merupakan timbangan amalan batin (hati) manusia.
  2. Syarat yang kedua, yaitu semata-mata mengikuti contoh dan petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam melakukan amal ibadah, dan ini adalah inti makna syahadat (محمد رسول الله), syarat ini terkandung dalam hadits yang kedua, oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa hadits yang kedua merupakan timbangan amalan lahir manusia.

Kedua syarat ini Allah Azza wa Jalla sebutkan dalam firman-Nya:

فمن كان يرجو لقاء ربي فليعمل عملاً صالحاً ولا يشرك بعبادة ربّه أحداً

Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh (amal yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam) dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-nya” (QS Al Kahfi:110).

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa jalan yang benar (lurus) itu cuma satu dan tidak berbilang adalah hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu:

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: خطّ رسول الله صلى الله عليه وسلم خطاًّ بيده ثم قال: “هذا سبيل الله مستقيماً”، قال: ثم خط خطوطاً عن يمينه وشماله ثم قال: “هذه السبل ليس منها سبيل إلا عليه شيطان يدعوا إليه”، ثم قرأ (وأن هذا صراطي مستقيما فاتبعوه ولا تتبعوا السبل) صحيح رواه أحمد والدارمي.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu dia berkata: 

Raslullah shallallahu alaihi wasallam (pernah) membuat satu garis lurus (dihadapan kami), kemudian Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Inilah jalan Allah yang lurus”, kemudian Beliau shallallahu alaihi wasallam membuat garis-garis lain (yang banyak jumlahnya) di samping kiri dan kanan garis yang lurus tadi, lalu Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Inilah jalan-jalan lain (yang menyimpang/sesat), yang pada semua jalan ini ada setan yang mengajak (manusia) untuk mengikuti jalan tersebut”, kemudian Beliau shallallahu alaihi wasallam membaca firman Allah Azza wa Jalla (Al An’aam: 153): “Dan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan itu; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (sesat yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa” (Hadits shahih riwayat Ahmad 1/435 dan Ad Darimi 1/78)).

Ucapan orang yang mengatakan: “yang pentingkan amalannya amalan baik, selama amalan tersebut baik, mengapa harus diingkari?

Jawabannya, yang menjadi patokan/barometer dalam menilai baik/buruknya suatu amalan (perbuatan) adalah petunjuk dan syariat Allah Azza wa Jalla, bukan akal, perasaan dan pertimbangan manusia, karena akal, perasaan dan pertimbangan manusia bersifat relatif dan sangat terbatas, 

Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Al Baqarah: 216):

كتب عليكم القتال وهو كرهٌ لكم وعسى أن تكرهوا شيئاً وهو خير لكم وعسى أن تحبّوا شيئاً وهو شرٌّ لكم والله يعلم وأنتم لا تعلمون

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal dia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal dia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.

Dan semua amalan yang baik telah Allah Azza wa Jalla tetapkan dalam syariat-Nya dan telah dicontohkan dengan jelas dan sempurna oleh nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, 

Allah Azza wa Jalla berfirman:

اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام ديناً

Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku atasmu, dan telah Ku-ridhai Islam ini menjadi agamamu” (QS Al Maaidah:3).

Sebagai bukti akan hal ini adalah suatu kisah yang pernah terjadi di jaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Muslim:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: جاء ثلاثة رهط إلى بيوت أزواج النبي صلى الله عليه وسلم يسألون عن عبادة النبي صلى الله عليه وسلم، فلما أخبروا كأنهم تقالوها، فقالوا: وأين نحن من النبي صلى الله عليه وسلم قد غفر الله له ما تقدم من ذنبه وما تأخر، قال أحدهم: أما أنا فإني أصلي الليل أبدا، وقال آخر: انا أصوم الدهر ولا أفطر، وقال آخر: أنا أعتزل النساء فلا أتزوج أبدا، فجاء رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: “أنتم الذين قلتم كذا وكذا؟ أما والله إني لأخشاكم لله وأتقاكم له، لكني أصوم وأفطر، وأصلي وأرقد، وأتزوج النساء، فمن رغب عن سنتي فليس مني”متفق عليه.

Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata: 

Tiga orang sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah datang ke rumah istri-istri Beliau shallallahu alaihi wasallam untuk menanyakan tentang ibadah Beliau shallallahu alaihi wasallam (sewaktu di rumah), dan setelah hal tersebut diterangkan kepada mereka, seolah-olah mereka menganggapnya sedikit, sehingga mereka mengatakan: jauh sekali kedudukan kita dibandingkan dengan kedudukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (di sisi Allah Azza wa Jalla), karena Allah Azza wa Jalla telah mengampuni semua dosa Beliau shallallahu alaihi wasallam yang lalu maupun yang akan datang, kemudian salah seorang dari mereka berkata: (Mulai sekarang) saya akan sholat semalam suntuk (tiap malam) selamanya! Orang yang ke dua berkata: Saya akan berpuasa terus setiap hari dan tidak mau berhenti berpuasa! Dan orang yang ke tiga berkata: Saya akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya! 

Kemudian datanglah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan bersabda kepada mereka: 

“Kalian tadi yang mengucapkan ucapan ini dan itu? Ketahuilah, demi Allah! Saya adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla dibandingkan kamu semua, tapi (bersamaan dengan itu) saya (kadang) berpuasa dan (kadang) tidak berpuasa, saya melakukan shalat (malam) dan (diselingi dengan) tidur, dan saya menikahi wanita, maka barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku (cara-caraku beribadah) maka dia bukan termasuk golonganku (umatku)HSR Al Bukhari (5/1949) dan Muslim (2/1020).

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengingkari amalan yang ingin dilakukan oleh ketiga orang sahabat ini radhiallahu anhu, padahal kalau dilihat berdasarkan akal, perasaan dan pandangan manusia amalan yang ingin mereka lakukan adalah amalan yang baik bahkan sangat baik! Shalat semalam suntuk tanpa tidur malam, puasa setiap hari dan menjauhi wanita karena tidak ingin terganggu konsentrasi beribadah.

Bahkan pengingkaran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada mereka adalah pengingkaran yang sangat keras, sampai-sampai Beliau shallallahu alaihi wasallam menyatakan sikap bara’ (berlepas diri) dari perbuatan yang ingin mereka lakukan itu, yang ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut meskipun terlihat baik menurut akal, perasaan dan pandangan manusia, akan tetapi karena tidak pernah dicontohkan dalam sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka perbuatan tersebut sangat buruk di hadapan Allah Azza wa Jalla dan jika dikerjakan justru akan semakin menjauhkan seseorang dari ridha-Nya Azza wa Jalla.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

_______________

1. Lihat kitab “Al Ushulu ats tsalaasah” (hal.12).

2. Ibid (hal.13).

Sumber Pemulihan http://ngaji-online.com/2008/07/27/ittiba-as-sunnah/

Nanang SB
Berdakwah dengan media
Komentar